Prof Dyson, Pejuang Antropologi Berpulang

28 Juli 2017

 

Surabaya – IKA FISIP UNAIR

FISIP Unair kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Dr. Drs. Laurentius Dyson Penjalong, MA, guru besar dalam ilmu Antropologi, meninggalkan kita semua selama-lamanya pada Rabu, 28 Juni 2017.

Untuk menghormati jasa-jasa Prof Dyson, kampus FISIP Unair memberikan upacara persemayaman dan pelepasan jenazah pada Sabtu, 1 Juli 2017. Wakil Rektor I Universitas Airlangga Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., PhD., FINASIM yang mewakili rektor dalam sambutannya mengatakan,  Unair, khususnya FISIP, sangat kehilangan besar atas putra terbaiknya, pejuang pendidikan.

Prof. Djoko mengatakan demikian karena Universitas Airlangga sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu yang mengedepankan moral dan kejujuran, salah seorang penggiat, pendukung, dan pejuang nilai-nilai moral dan kejujuran itu adalah Prof. L. Dyson.

Upacara persemayaman dan penghormatan terakhir Prof. Dyson penuh dengan rasa keharuan mendalam. Ratusan sivitas memenuhi halaman depan kampus oranye FISIP Unair, tempat Prof. Dyson, sapaan akrabnya, 37 tahun mengabdi di sana. Di antaranya banyak alumni FISIP dan perwakilan beberapa perguruan tinggi di Surabaya. Bahkan tampak hadir Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD, pria kelahiran Polandia ini adalah salah seorang pendiri Jurusan Antropologi FISIP Unair tahun 1984.

Prof. Dyson adalah pribadi pekerja keras yang luar biasa. Karena itu, apapun yang telah dipesankan dan diajarkan oleh Prof. Dyson kepada murid dan juniornya, pasti akan dipenuhi dan dilaksanakan, terutama sebagai pejuang pendidikan.

”Kami yakin, gugur satu ini akan lahir ribuan semangat Prof. Dyson baru yang akan menegakkan pendidikan, moral, dan kejujuran, sehingga kontribusinya akan menunjang kemajuan Indonesia untuk tetap dalam lindungan Allah SWT,” tandas Prof. Djoko Santoso, Guru Besar FK Unair ini, seperti dilansir news.unair.co.id

Sebagai wakil sejawat, Dr. Pinky Saptandari, Ketua Jurusan Antropologi FISIP UNAIR, mengatakan bahwa Guru Besar FISIP Unair kelahiran Samarinda 3 November 1954 ini, semasa aktifnya senantiasa tidak henti memberikan motivasi kepada juniornya untuk sekolah, sekolah, dan sekolah lagi. Ini menunjukkan semangat pengabdian pada pendidikan pada Prof. Dyson yang luar biasa, dan ditunjukkan dengan keteguhannya pada prinsip, kejeniusannya, keuletannya, sekaligus dengan kejenakaannya.

”Semangat yang ditunjukkan paling akhir adalah ketika kami sama-sama ke Makassar dalam rangka persiapan pembukaan prodi S-2 Unhas, Prof. Dyson selalu menginspirasi kita semua,” tandas Pinky Saptandari, yang juga staf ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini.

Laurentius Yoan Dyson, puteri pertama almarhum, ketika mewakili keluarga menyatakan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mulai perawatan hingga persemayaman dan pemakaman ayahandanya ke peristirahatan terakhirnya di TPU Keputih Sukolilo, Surabaya.

Ia membenarkan, papanya adalah tipe orang yang suka bekerja keras, sangat fight, sangat perduli kepada siapapun; terutama orang-orang terdekatnya untuk selalu dimotivasi agar melanjutkan sekolah, sekolah, dan sekolah.

Almarhum meninggalkan seorang isteri, Betsy Remanitha, dan dua orang anak, yaitu Laurentius Yoan Dyson, dan Nikolas Dion Dyson. Almarhum menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di Universitas Indonesia, sedang pendidikan S-3 diselesaikan di Universitas Airlangga pada bidang Ilmu Antropologi Psikologi.

Almarhum menjadi dosen FISIP Unair sejak tahun 1980, lalu dikukuhkan menjadi Guru Besar tahun 2005 pada bidang Ilmu Antropologi Psikologi, dengan judul orasi “Menjadi Orang Indonesia dalam Semangat Otonomi Daerah di Tengah Arus Globalisasi”. Selamat jalan Prof. Laurentius Dyson Penjalong. (*/riz)

Agenda

Indeks +